Welcome To

Amalia's Journal Blog
Halo.

Sekarang ini anak-anak kelas 12 lagi rajin-rajinnya belajar untuk menghadapi UNBK ya? Pada saat itu juga saya lebih sering belajar. Beli buku kumpulan soal dan tiap hari dikerjain. Saya juga mengikuti kelas bimbel yang awalnya diajak oleh teman saya, Dian. Saya mau diajak karena saya merasa butuh, nilai saya nggak bagus-bagus banget di rapor. Di tempat bimbel itu, saya juga mengambil paket persiapan SBMPTN. Ada beberapa tryout untuk memprediksi apakah nilai hasil tryout saya bisa mencapai target pilihan jurusan saya.

Saya pun bingung menentukan jurusan apa yang akan saya ambil. Ketika masih berada di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, saya ingin menjadi dokter. Bahkan, saya pernah pura-pura menjadi dokter dengan memakai kemeja putih yang kebesaran (ceritanya jas dokter gitu). Lanjut SMP, saya tidak mau lagi menjadi dokter. Pelajaran Biologi sangat rumit menurut saya. Kemudian, saat masuk SMA kelas 10 saya masuk di kelas MIPA dan saya mau menjadi Psikolog. Bayangan saya pada saat itu, saya mau membantu anak-anak yang depresi. Saya ceritakan hal tersebut kepada teman saya, teman saya bilang kalau anak MIPA ga bisa masuk Psikologi. Bodohnya, saya percaya.

Kelas 12 saya masih bingung menentukan jurusan, tapi yang pasti saya mau masuk UGM. Salah satu universitas terbaik di Indonesia, siapa yang ga mau? Tapi alasan lain saya adalah kakak kelas cowok yang saya suka masuk UGM hehe.Eh, fokus! Karena saya ga tau harus ambil jurusan apa, saya ke guru bimbingan konseling. Saya bilang, mau membantu orang banyak dan mengabdi kepada masyarakat gitu deh. Beliau sempat mengarahkan ke ilmu gizi, saya searching tentang jurusan itu. Oke, saya tertarik.

Pada saat itu, saya mau mengejar jalur undangan. Menurut guru BK, ada juga teman satu angkatan saya yang memilih ilmu gizi dan nilainya lebih tinggi dari saya, saya disarankan pindah dan pilih jurusan Statistika. Sumpah waktu itu saya ga tau Statistika itu apa dan kayak gimana. Saya searching di internet pun masih belum paham. Tapi satu yang saya paham adalah mirip matematika. Karena saya suka pelajaran Matematika, oke lah saya nurut dan pindah haluan.

Masa SNMPTN pun hadir, saya bersama teman-teman sekelas mengisi kelengkapan di website SNMPTN. Masih sempat ada ragu. Meyakinkan diri dengan ijin dan minta do'a ke ortu. Oh ya, sebenarnya ortu saya mau saya jadi dokter. Saat finalisasi, guru BK saya bilang ada teman angkatan saya yang juga pilih jurusan dan universitas yang sama seperti saya kalau yakin ya silahkan katanya. Bikin down banget banget banget. Karena itu udah hari terakhir pengisian kelengkapan SNMPTN. Gila, saya ga tau mau ganti jurusan apa lagi. Saat itu dengan bismillah saya pilih yakin aja dan tetep minta ortu do'ain saya.

Saya udah pasrah. Terserah hasilnya gimana, saya ga mau berharap terlalu banyak juga. Kalau ga diterima di universitas negri ortu saya minta saya untuk kuliah jurusan kedokteran di universitas swasta yang ada di kota kami tinggal. Saya ga mau. Saya rasa saya ga akan sanggup di kedokteran, apalagi biayanya yang sangat mahal. Jadi, saya berlatih soal-soal SBMPTN sambil masih tetap mengharapkan hasil SNMPTN.

Akhirnya, sekarang saya menjadi mahasiswi semester 8 Statistika Universitas Padjadjaran, bukan UGM haha. Saya masuk lewat jalur undangan. Mungkin ini memang takdir. Tetapi untuk melihat takdir yang belum saya ketahui, saya perlu membuka pintunya dengan kunci berusaha, yakin dan do'a. 









Jatinangor, 14 Maret 2020

Kau adalah pemeran yang hebat
Apakah kau seorang aktor?
Kau bahkan harus diberi penghargaan
Drama apa yang sedang kau mainkan?
Semua penonton bahkan menganggap semuanya nyata
Apa kau bahagia memainkan peran itu?
Ku lihat kau tersenyum kepadaku untuk meyakinkan
Wahai makhluk di dalam cermin, tunjukkan jati dirimu!

6 Agustus 2016



Derap kaki yang biasanya ku dengar setiap hari,
Kini tidak terdengar.
Padahal, aku berjalan bersama dengan  ratusan orang.
Ah! Pagi itu hujan cukup deras.

Seperti biasa,
Aku berjalan santai walau pun pada saat itu sedang turun hujan.
Aku berjalan dengan para pemuda serta pemudi bangsa.
Terkadang, aku berjumpa dengan para pejuang lanjut usia.
Beliau berjuang untuk memberikan kesejahteraan untuk keluarganya di rumah.

Para pemuda dan pemudi itu pergi demi cita-citanya.
Mereka berjalan untuk berperang.
Bukan dengan pistol atau tombak.
Berperang yang dilakukan jaman sekarang
Berperang melawan ilmu yang kurang.
Cita-cita yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

Walaupun saat ini mereka sedang berperang,
Apakah pantas mereka dikatakan pahlawan?
Belum.
Lalu, siapakah pahlawan itu?
Menurutku, pahlawan itu orang yang berjuang demi orang banyak.


Bung Tomo, R.A. Kartini, Moh. Yamin, Pangeran Diponegoro dan lainnya.
Serta seorang ayah, yang banting tulang dari subuh hingga petang demi keluarganya.
Seorang ibu, yang mengurus rumah dan keluarganya.
Dan seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu demi memajukan bangsa.
Mereka juga adalah pahlwan.






~ SELAMAT HARI PAHLAWAN!~


Jatinangor, 10 November 2017

Previous PostOlder Posts Home